Search your choise

Memuat...

My Spirit

Senin, 18 Oktober 2010

Makalah tentang Kesulitan Belajar Siswa di Sekolah Dasar


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap anak memiliki kemampuan atau kelebihan yang berbeda-beda, begitu pula dengan kekurangan atau ketidak mampuannya. Dari berbagai kekurangan atau ketidak mampuan yang menjadi masalah bagi siswa salah satunya adalah anak bodoh.

Jangankan anak berbakat atau berpotensi, anak bodohpun membutuhkan atau lebih membutuhkan seseorang yang dapat memahami serta menghargai kekurangan dan ketidak mampuannya, atau orang yang mampu memecahkan masalahn yaitu. Karena sipat dasar anak berbeda-beda, baik tempramennya, gaya, sikap maupun emosinya. Begitu juga dengan anak bodoh akan berbeda dengan anak.normal.lainnya.dan.begitu.jelas.

Berbagai observasi menunjukan bahwa cara berpikir anak bodoh berbeda dengan cara berpikir anak normal pada umumnya. Karena adanya keterlambatan dalam berpikir atau menerima materi/stimulus/rangsangan dari orang lain, khususnya saat.belajar.

Kita menyadari bahwa kurang adanya perhatian terhadap kebutuhan anak yang memiliki masalah (anak bodoh) dalam cara berpikir atau merealisasikan sesuatu dan kesempatan. Kesempatan yang sepadan dan selaras dengan kebutuhan atau ketidak.mampuan.mereka.

Dengan itu, kita sebagai calon pendidik dan pembimbing sekaligus orang tua mereka, harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada anak didik kita yang mempunyai kelemahan atau ketidak mampuan dalam berpikir (anak bodoh), dan bagai mana cara kita untuk mengetahui anak tersebut.
Untuk itu kita akan membahas tentang cara mengetahui anak bodoh dan cara membimbingnya.




1.2 Tujuan
Adapun tujuan diadakannya penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui karakteristik anak di Sekolah Dasar
2. Mengetahui pengertian anak bodoh sehingga kita tahu masalah yang sedang dihadapi anak-anak didik kita.
3. Melakukan observasi, pengamatan langsung pada objek untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi siswa khususnya anak bodoh.
4. Untuk mengetahui siswa sebelum dan sesudah diadakannya layanan bimbingan.
5. Memecahkan masalah/kendala-kendala yang dihadapi saat proses bimbingan.
6. Menjadikan siswa yang bersangkutan lebih baik dari sebelum bimbingan.

























BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Anak di Sekolah Dasar
A. Memahami Karakteristik Anak di Sekolah Dasar
Masa usia SD (sekitar 6,0- 12,0 ) ini merupakan tahapan perkembangan penting dan bahkan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Karena itu, guru tidaklah mungkin mengabaikan kehadiran dan kepentingan mereka. Ia akan selalu dituntut untuk memahami betul karakteristik anak di SD. Karakteristik anak usia sekolah dasar secara umum sebagaimana dikemukakan Bassett, Jacka, dan Logan (1983) berikut ini:
a. Mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi.mereka.sendiri.
b. Mereka senang bermain dan lebih suka bergembira / riang
c. Mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan.mencobakan.usaha-usaha baru
d. Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan-kegagalan
e. Mereka belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi
f. Mereka belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif dan mengajar anak-anak lainnya.
Masa usia SD ada yang mengatakannya sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6 tahun hingga kira-kira usia sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar,dan mulailah sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para pendidik mengenal masa ini sebagai “Masa Sekolah”, oleh karena itu pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal.

Seorang ahli berpendapat lagi bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar, maupun masa matang untuk sekolah. Di sebut masa anak sekolah, karena sudah menamatkan taman kanak-kanak. Disebut masa matang untuk belajar, karena mereka sudah berusaha untuk mencapai sesuatu tetapi perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktifitasnya itu sendiri. Disebut masa matang untuk bersekolah, karena mereka sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru yang dapat diberikan.oleh.sekolah.

Ada yang berpendapat bahwa masa usia sekolah sering pula disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik dari pada masa sebelumnya dan sesudahnya. Menurut pendapat ini, masa keserasian bersekolah ini dapat diperinci menjadi dua fase, yaitu :
a. Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6,0 atau 7,0 sampai umur 9,0 atau 10,0.
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain :
1. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan
jasmani dan prestasi sekolah.
2. Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan
permainan yang tradisional.
3. Ada kecenderungan memuji sendiri.
4. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain, kalau hal itu
dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain.
5. Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu dianggapnya
tidak penting.

Pada masa ini (terutama pada umur 6,0-8,0 ) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.

b. Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, yaitu kira-kira umur 9,0 atau 10,0 sampai kira-kira umur 12,0 atau 13,0.
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini adalah sebagai berikut :
1. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkrit; hal ini
menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-
pekerjaan yang praktis.
2. Amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar.
3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata
pelajaran khusus, yang oleh ahli-ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan
sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor.
4. Sampai kira-kira umur 11,0 anak membutuhkan guru atau orang-orang
dewasa lainnya, untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi
keinginannya; setelah kira-kira umur 11,0 pada umumnya anak menghadapi
tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya sendiri.
5. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang
tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah.
6. Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya
untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan ini biasanya anak
tidak lagi terikat kepada aturan permainan yang tradisional; mereka
membuat peraturan sendiri.

Dengan memperhatikan segi individualitas dan karakteristik anak usia sekolah dasar serta berbagai dimensi perkembangannya, maka seorang guru tidak asal suka begitu saja mengembangkan pengajaran di sekolah / di kelasnya. Ia dituntut dalam mengembangkan sistem pengajarannya, tidak menyimpang dari prinsip-prinsip psikologis yang ada. Kenyataan ini, menjadi alasan kuat mengapa sistem pengajaran yang dikembangkan guru diharapkan akan semakin dapat melayani kebutuhan peserta didik individual (individually guided education) dan pengajaran itu benar-benar menjadi menarik dan bermakna bagi anak.

B. Aspek-aspek Psikologis dan Fisik dalam Memahami Karakteristik Anak di SD
Dalam memahami karakteristik anak di SD maka aspek-aspek psikologis dan fisik yang penting dalam perkembangan pada masa anak sekolah diuraikan antara lain beberapa cirinya seperti faktor intelektual, faktor kognitif, faktor verbal dan faktor emosi.
1. Faktor Intelektual
Faktor intelektual dari murid ialah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang / simbol (huruf, angka, kata, gambar).
Intelektualisme bisa diartikan sebagai akal atau pikiran. Pikiran mempunyai kedudukan yang boleh dikata menentukan. Karena itulah kewajiban kita para pendidik, disamping mengembangkan aspek-aspek lain dari anak-anak didik kita untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi perkembangan pikiran itu. Berfikir dan bahasa adalah demikian erat hubungannya, karena itu perkembangan bahasa yang baik adalah syarat yang harus dipenuhi untuk perkembangan pikiran yang baik. Pada waktu murid belajar, murid juga dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, namun tanpa melalui pengamatan dan ke organisasi dalam pengamatan. Problem ini harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu. Proses jalannya berfikir dari siswa melalui pembentukan pengertian logis, dimana siswa dalam membentuk pengertian logis ini sebelumnya menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis, kemudian membanding-bandingkan ciri-ciri mana yang tidak sama, mana yang selalu ada atau tidak selalu ada, mana yang hakiki dan mana.yang.tidak.

Menurut Gagne 1967 Kemahiran intelektual seseorang semakin meningkat, dengan semakin menguasai cara berfikir yang tidak berperaga. Dalam berfikir tidak berperaga sangat menonjollah manfaat dari apa yang disebut “Kemahiran Intelektual”, dimana orang memperoleh pemahaman dan menggunakan konsep, kaidah dan prinsip. Di sini pula terdapat “Berfikir Intelektual” yaitu berfikir dengan mencari dan menggunakan pemahaman melalui penguasaan konsep dan relasi-relasi antara konsep itu. Demikian juga pemahaman semacam itu disebut “Pemahaman Intelektual”.

2. Faktor Kognitif
Ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, entah objek itu orang, benda atau kejadian / peristiwa. Oleh karena itu kemampuan kognitif ini, murid dapat menghadirkan realitas dunia di dalam dirinya sendiri, dari hal-hal yang bersifat material dan berperaga seperti perabot rumah tangga, kendaraan, bangunan dan orang, sampai hal-hal yang tidak bersifat material dan berperaga seperti ide “Keadilan, Kejujuran” dan lain sebagainya. Jelaslah kiranya, bahwa semakin banyak pikiran dan gagasan dimiliki seseorang, semakin kaya dan luaslah alam.pikiran.kognitif.orang.itu.



Adapun termasuk dalam aktivitas kognitif ini yaitu :
a. Mengingat adalah suatu aktivitas kognitif, dimana orang menyadari bahwa
pengetahuannya berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh dimasa lampau. Ada dua bentuk mengingat yaitu : mengenal kembali dan mengingat kembali. Murid dapat belajar untuk mengingat kembali dengan lebih baik, terutama dengan memperlihatkan dan mempelajari materi yang harus diingat kelak dengan sungguh-sungguh.

b. Berfikir, siswa berhadapan dengan objek-objek yang diwakili dalam kesadaran.
Jadi, orang tidak langsung menghadapi objek secara fisik seperti terjadi dalam mengamati sesuatu bila melihat, mendengar dan meraba. Dalam berfikir, objek hadir dalam bentuk representasi. Bentuk-bentuk representasi yang paling pokok adalah tanggapan pengertian atau konsep dan lambang verbal.
Thornburg 1985 mengemukakan bahwa kemampuan berfikir dan kemandirian mereka lebih tinggi dan bahkan ada diantara mereka yang menampakkan tingkah laku anak remaja permulaan.

3. Faktor Verbal
Yang dimaksudkan faktor verbal pada masa usia sekolah adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bahasa. Oleh karenanya masa pra sekolah merupakan periode yang kritis dalam pola pengembangan bahasa.anak.
Masa pra sekolah atau masa kanak-kanak akhir merupakan usia yang ideal untuk belajar keterampilan-keterampilan yang tidak hanya berguna baginya pada masa itu akan tetapi juga merupakan pondasi bagi keterampilan-keterampilan tinggi yang terkoordinasi yang diperlukan di kemudian hari. Anak merasa senang mengulang-ulang sesuatu kegiatan sampai benar-benar menguasainya. Ia suka berpetualang, tidak merasa takut terhadap ancaman-ancaman bahaya ataupun cemoohan teman-teman.

4. Faktor Emosional
Masa pra sekolah merupakan periode memuncaknya emosi yang ditandai dengan munculnya “Tantramus” rasa takut yang kuat, dan meledaknya cemburu yang tidak beralasan. Pada masa ini telah terlihat perbedaan-perbedaan dalam emosi dan pola ekspresinya dapat ditafsirkan dengan segera. Ketegangan emosi pada anak-anak ini sebagian disebabkan oleh kelelahan karena terlalu lama bermain, kurang tidur siang, dan terlalu sedikit makan sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan jasmaniah. Kebanyakan anak-anak merasa bahwa mereka sanggup melakukan lebih banyak lagi daripada apa yang diperbolehkan orang tua dan mereka membangkang terhadap pembatasan-pembatasan yang diberlakukan.terhadap.dirinya.

Menginjak masa sekolah, anak segera menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Dengan demikian ia mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar mengendalikan, dan mengungkapkan emosinya.

Stagner 1961 menunjukkan bahwa jika guru selalu dalam ketegangan psikologis maka murid-muridnya pun mengalami ketegangan psikologis seperti yang dialami gurunya. Guru yang pemarah, pengomel dan cerewet, menyebabkan muridnya meniru tingkah laku gurunya itu, dan hal ini menimbulkan gangguan perkembangan emosi anak.
Semakin bertambah umur anak, ia akan memperlihatkan pengulangan respon emosionalnya yang semakin meningkat yang dikenal oleh orang dewasa sebagai gembira, marah, takut, cemburu, bahagia, ingin tahu, iri dan benci.
Bentuk-bentuk tingkah laku emosional ini dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan yang luas, termasuk manusia, benda dan situasi pada mulanya.tidak.berpengaruh.

Emosi-emosi yang telah disebutkan di atas tidaklah merupakan emosi yang siap sedia atau siap pakai sejak lahir. Emosi itu harus berkembang dan dikembangkan. Perlindungan emosional dipengaruhi oleh dua fakta yakni kematangan dan belajar. Jadi, oleh kedua-duanya, bukan hanya oleh satu dari padanya. Kenyataan bahwa reaksi emosional tertentu tidak muncul sejak awal kehidupan, tidak berarti bahwa itu tidak dibawa sejak lahir. Mungkin emosi itu akan berkembang belakangan sesuai dengan kematangan intelegensi si anak atau bersamaan dengan perkembangan sistem indoktrin. Melalui belajar, objek dan situasi yang pada mulanya tidak menimbulkan respons emosional di kemudian hari mungkin menimbulkan.respons.rasional.

Jenis-jenis emosi yang umum pada masa kanak-kanak yaitu :
a...Takut
Adanya rasa takut pada anak-anak adalah baik selama rasa takut itu tidak terlalu kuat dan hanya merupakan peringatan terhadap bahaya. Sayangnya kebanyakan anak-anak belajar takut terhadap hal-hal yang tidak berbahaya, dan rasa takut ini menjadi penghambat terhadap tindakan yang mungkin sekali sangat berguna ataupun.menyenangkan.

b...Cemas
Cemas ialah suatu bentuk rasa takut yang bersifat khayalan. Jadi bukan rasa takut yang disebabkan stimulus dari lingkungan si anak. Kecemasan ini mungkin datangnya dari situasi-situasi yang dikhayalkan / diimajinasikan akan terjadi. Tapi dapat pula asalnya dari buku-buku, film, komik, radio, ataupun cara-cara.rekreasi.popular.lainnya

c...Marah
Marah merupakan reaksi emosional yang lebih sering terjadi pada masa kanak-kanak.oleh.karena:
1. Lebih banyak stimulus yang menimbulkan kemarahan dalam kehidupan anak
daripada stimulus yang menimbulkan rasa takut
2. Banyak anak-anak yang pada usia muda telah menemukan bahwa marah
merupakan cara yang baik untuk mendapatkan perhatian atau memuaskan
keinginannya.

d...Cemburu
Cemburu merupakan respon yang normal terhadap kehilangan nyata ataupun ancaman terhadap kehilangan kasih sayang.

e...Kegembiraan,.Kesenangan.dan.Kenikmatan.
Kegembiraan dalam bentuknya yang lebih lunak dikenal sebagai ketenangan, kenikmatan atau kebahagiaan, merupakan emosi yang positif oleh karena individu yang mengalaminya tidak melakukan usaha untuk menghilangkan situasi yang menimbulkannya.


f...Kasih.Sayang
Kasih sayang atau cinta adalah reaksi emosional yang ditujukan terhadap seseorang atau suatu benda. Kasih sayang anak terhadap orang lain terjadi secara spontan dapat ditimbulkan oleh suatu stimulasi sosial yang minim sekalipun.

g...Ingin.Tahu
Minat terhadap lingkungan sangat terbatas selama usia dua atau tiga bulan pertama dari kehidupan terkecuali bila stimulus yang kuat ditujukan terhadap si bayi. Setelah usia itu, apa saja yang baru atau aneh baginya, pasti akan menimbulkan rasa ingin tahu.

C. Faktor Pendukung Keberhasilan Guru dalam Memahami Karakteristik Anak
Usaha memahami anak didik akan berhasil dengan baik, jika guru memiliki sifat-sifat, kemampuan, dan keterampilan tertentu yang merupakan faktor pendukung keberhasilannya. Oleh karena itu guru perlu memiliki faktor-faktor pendukung tersebut.
Faktor-faktor pendukung yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :
a. Kasih sayang yang dalam kepada anak didik, terutama anak yang mengalami kegagalan dan menampilkan tingkah laku yang menyimpang dalam belajar. Kasih sayang tanpa pamrih, menjadi tenaga pendorong yang sangat kuat bagi guru untuk membantu anak didik, sehingga keseriusan dalam melaksanakan usaha memahami anak.terjadi.

b. Kesadaran akan tanggung jawabnya untuk membantu perkembangan anak. Guru menyadari bahwa tugasnya adalah menjadikan anak didiknya berkembang optimal, maka ia pun menyadari bahwa salah satu tugasnya yang penting adalah membantu anak agar dapat mengatasi kesulitan yang dialami dalam mencapai perkembangan yang optimal.

c. Kesabaran yang tinggi dalam melakukan usaha memahami, maupun menunggu hasil usaha. Memahami anak memerlukan waktu yang relatif panjang dan ketekunan. Hal ini disebabkan guru bekerja dengan “jiwa”, atau tingkah laku yang sangat kompleks. Tingkah laku anak yang ditampilkannya sekarang bukanlah terbentuk semalam, tetapi melalui sejarah perkembangan yang panjang. Itu pula sebabnya guru perlu melakukan berbagai cara untuk memahami anak, sehingga data dan informasi yang lengkap dapat diketahui guru.

d. Keterampilan untuk melaksanakan berbagai cara atau teknik memahami anak seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Misalnya keterampilan melaksanakan wawancara; pengamatan dan pendekatan terhadap anak. Untuk itu guru perlu latihan terus menerus tanpa mengenal bosan, kecewa atau putus asa.

e. Keterampilan dalam mengadministrasikan data anak, dan kemampuan menerjemahkan data sehingga menjadi informasi yang jelas tentang anak.

2.2 Kesulitan Belajar Siswa di Sekolah Dasar (Tentang Anak Bodoh)
A. Pengertian Anak Bodoh
Secara umum anak bodoh dapat diartikan anak yang mempunyai masalah kelemahan atau kekurangan dalam hal berpikir atau menerima materi atau intelegensinya.kurang.

Selain itu, pada umumnya anak bodoh dapat diartikan salah satu dari beberapa jenis tuna cakap belajar, yang lebih cenderung kepada ketidak berfungsian minimal otak untuk berpikir atau menerima materi, stimulus, rangsangan.
Dari hasil observasi menunjukan tingkat intelegensinya biasanya dibawah rata-rata, dan lebih cenderung masa bodoh atau diam. Hasil tesnyapun hampir selalu dibawah rata-rata dan bawaannya tidak bersemangat.

B. Karakteritik Anak Bodoh
Setiap anak atau siswa memiliki sifat dan perilaku yang berbeda-beda, adapun karakteristik anak bodoh antara lain:
1. Memiliki kelemahan dalam berpikir dan menerima materi atau stimulus yang
diberikan oleh guru.
2. Intelegensinya dibawah rata-rata.
3. Tidak menunjukan peningkatan prestasi.
4. Lebih cenderung menyendiri, cuek dan pemalu.
5. Jika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan atau soal cenderung tidak bisa
menjawab atau lambat.
6. Tidur didalam kelas.
7. Tidak aktif.
8. Nyontek pekerjaan teman.
9. Tidak naik kelas.
Mungkin masih banyak lagi karakteristik yang ada pada diri siswa/anak yang dikatakan bodoh.

C. Faktor-faktor anak mengalami atau mempunyai kelemaha/ketidak mampuan dalam berpikir, menerima materi, stimulis dan rangsangannya (anak bodoh) antara lain:
1. Faktor Internal (dalam diri anak)
a. Minimal Brain Dysfunction (ketidak berfungsian minimal otak) yang bisa
termanifestasi dalam berbagai kondisi kesulitan seperti: persepsi, konseptualisasi, bahasa memori, pengendalian perhatian impils (dorongan) atau fungsi motorik.
b. Kelemahan perseptual
c. Males belajar
d. Kelemahan dalam membaca (dyslexia)
e. Bawaan

2. Faktor Ekstern (dari luar diri anak)
a. Faktor keluarga (keturunan)
b. Lingkungan
c. Beban pikiran karena masalah dengan keluarga
d. Tidak adanya atau kurangnya perhatian dari orang tua juga keluarga
e. Tidak adanya bimbingan atau pengarahan

D. Pengaruh ketidak mampuan atau kelemahan dalam menerima materi,
stimulus/rangsangan bagi anak yang bersangkutan (anak bodoh) dan temannya.
1. Pengaruh bagi dirinya sendiri
a. Menjadi suatu masalah atas kelemahannya
b. Menjadi penghambat dalam meraih prestasi
c. Menjadikan kurang percaya diri dan tidak bersemangat
d. minder dan suka menyendiri
e. Bahan ejekan teman
f. Membuat anak jadi merasa bodoh dan makin tidak terkontrol emosinya
g. Mudah terpengaruh dengan hal-hal yang negatif
h. Dimarahi, diomel orang tua
i. Menambah beban teman sekelompoknya

2. Pengaruh bagi teman-temannya
a. Menjadi kendala saat kerja kelompok
b. Menimbulkan rasa kasihan
c. Bahan cemoohan atau ledekan
d. Mengurangi saingan dalam berprestasi
e. Mempengaruhi dalam suasana belajar mengajar

2.3 Upaya mengatasi kesulitan belajar siswa di Sekolah Dasar (tentang anak
bodoh)
A. Langkah-langkah untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak yang mengalami
kelemahan atau ketidak mampuan dalam menerima materi, stimulus dan rangsangan (anak bodoh) antara lain:
1. Memberikan perhatian dan kesempatan-kesempatan yang sepadan, selaras
sesuai dengan kebutuhannya.
2. Khususnya bagi orang tua, terimalah kelemahan yang dimiliki anak dengan
kesabaran, tanggung jawab untuk membimbingnya.
3. Maafkan dan jangan dimaki, berilah motivasi atau dorongan sebagai pemacu
semangat mereka.
4. Jangan sekali-kali memberi anak cap bodoh karena itu akan menjadi beban
baginya. Seperti yang dilakukan oleh Ibundanya Albert Einstein, karena kita semua tahu bahwa saat Einstein masih duduk dibangku SD. Einstein dicap bodoh dan dikeluarkan dari sekolah karena selalu tidak naik kelas. Meskipun begitu, Ibunya selalu memberikan semangat untuk menjadi lebih baik. Dan akhirnya dengan keseriusan dan ketekunan Einstein menjadi seorang Ilmuan Besar dan menakjubkan.
5. Selalu berprasangka baik terhadap anak.
6 Dekatilah dan menjadi teman curhat setia bagi mereka.
7. Pergunakanlah Metode Bimbingan yang sesuai dengan kebutuhannya.



B. Jenis Bimbingan
Jenis bimbingan yang di ambil diarahkan kepada kelemahan atau ketidak mampuan (anak bodoh) yang menjadi bahab observasi.
Jenis bimbingannya hampir sama dengan jenis bimbingan anak tuna cakap belajar. Karena dilihat dari fungsi bimbingan atau penyuluhan itu bersifat pencegahan, pengembangan, dan penyembuhan.

Adapun beberapa fungsi bimbingan di SD, antara lain:
a. Penyuluhan (distributive)
b. Pengadaptasian (adaptive)
c. Penyesuaian (adjustive)

Jenis dan layanan bimbingan berupa bantuan-bantuan diantaranya:
a. Pemberian informasi sebagai orientasi
b. Bantuan untuk menyesuaikan diri
c. Penyuluhan tentang perkembangan individu.

C. Teknik Bimbingan
Betapapun pentingnya bimbingan harus diberikan kepada siswa tertentu, karena tugas utama seorang guru harus berpase pada terselenggaranya Proses Belajar Mengajar (PBM). Oleh karena itu sejumlah kemungkinan layanan bimbingan hanya beberapa saja yang benar-benar berkaitan secara langsung dengan PBM, tugas lainnya merupakan kompetnsi dari layanan khusus bimbingan dan pelayanan.di.sekolah.

Kegiatan bimbingan itu berjalan paralel dan berdampingan serta berurutan logis dengan kegiatan Evaluasi dan Pengajaran dalam kerangka suatu pola PBM.yang.lengkap.

Adapun beberapa Metode yang digunakan dalam bimbingan ini, antara lain:
1. Observasi.(pengamatan)
Yaitu teknik atau cara mengamati suatu keadaan atau suatu kegiatan (tingkah laku) anak di kelas. Karena sikapnya mengamati, maka alat yang cocok untuk teknik ini adalah Panca Indra penglihatan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu.
b. Direncanakan secara sistematis.
c. Hasil yang dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan.
d. perlu diperiksa ketelitiannya.

Teknik observasi ini dapat dikelompokan kedalam beberapa jenis, yaitu:
a. Observasi Sehari-hari, saat kita melakukan Proses Belajar Mengajar.
b. Observasi Sistematis
c. Observasi Partisipatif
d. Observasi Nonpartisipatif

2. Dokumentasi
Dokumentasi ini meliputi Lapor dan Buku Leger karena kita bisa tahu perkembangan anak dari hasil catatan guru selama Proses Belajar Mengajar di nilai.

Anak yang mengalami kelemahan atau ketidak mampuan (anak bodoh) akan menunjukan tingkat prestasi yang jauh tertinggal dari anak-anak normal lainnya. Tapi disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak.

3. Wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi melalui komunikasi langsung dengan sesponden (orang yang diminta informasi) atau orang yang bersangkutan dengan bimbingan.
Dalam bimbingan wawancara dilakukan oleh guru dengan siwa.
Misalnya:
- Wawancara guru dengan murid (anak bodoh) secara langsung ditempat
khusus.
- Wawancara guru dengan teman-teman terdekatnya.


Kegiatan wawancara sangat penting karena memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut:
a. Teknik yang tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi siswa.
b. Dapat dilakukan kepada semua tingkat umur.
c. Dapat diselenggarakan serempak dengan observasi.
d. Digunakan untuk pelengkap data yang dikumpulkan melalui teknik lain.

Adapun kelemahan wawancara antara lain:
a. Tidak efisien, tidak dapat menghemat waktu.
b. Sangat bergantung kepada kesediaan kedua belah pihak.
c. Menuntut penyusunan bahasa dari pihak pewawancara.

D. Lokasi Bimbingan
Kegiatan bimbingan ini berlangsung di kelas 3 SDN 1 Ciomas, Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.

E. Layanan Bimbingan
1. Rencana dan Pelaksanaan
Perencanaan layanan bimbingan ini meliputi:
a. Menemukan murid yang bermasalah (anak bodoh). Untuk menemukannya,
kita harus tau pengertian dan ciri-ciri anak bodoh.
b. Memperoleh data atau informasi.
Untuk memahami secara lengkap tentang mengapa anak itu dikatakan bodoh, maka kita harus melakukan pengumpulan data atau informasi mengenai pribadi.anak.tersebut.

Informasi atau data dapat diperoleh dari dokumentasi (raport, buku leger), tes hasil kecerdasan dan observasi, juga bisa dilakukan lewat:
1. Wawancara antara guru dan siswa.
2. Home visit, kunjungan kerumah orang tua.

c. Menganalisis Data
Setelah data terkumpul, kita melakukan analisis terhadap semua data yang diperoleh. Langkah-langkah analisis diutamakan untuk menemukan faktor-faktor yang menjadi penyebab anak bermasalah (anak bodoh) baik secara Interen maupun Eksteren.

d. Memberikan.layanan.bimbingan
Layanan bimbingan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan anak yang ada hubungannya dengan faktor-faktor penyebab anak bermasalah (anak bodoh).

e. Layanan bimbingan lebih cenderung dari hati kehati, karena sifatnya individual tapi tidak menutup kemungkinan peran teman-teman sekelasnya menjadi motivasi bagi (anak bodoh) yang memiliki kelemahan atau ketidak mampuan dalam berpikir, menerima materi, stimulus atau rangsangan.
Layanan bimbingan bisa berupa tes tambahan untuk menambah materi dari semua materi pelajaran, juga perhatian dan kesempatan yang dibutuhkannya, dan memberikan sedikit pencerahan atau refresing biar tidak begitu tegang.

2. Evaluasi/Tindak.Lanjut
Setelah kita membuat kerangka perencanaan dan pelaksanaannya, maka kita harus melakukan evaluasi atau tindak lanjut terhadap hasil analisis dan layanan bimbingan.

Tindak lanjut ini berupa pengarahan atau bimbingan yang difokuskan kepada anak yang kita amati atau anak yang menjadi tujuan bimbingan ini diadakan.
Tabel Rancangan pelaksanaan layanan Bimbingan.

2.4 Deskripsi Hasil Layanan Bimbingan
A. Karakteristik Siswa
Dari bimbingan ini, kita dapat mengetahui anak atau karakteristik siswa yang termasuk (anak bodoh) anak yang memiliki kelemahan atau ketidak mampuan seperti halnya anak-anak normal lain pada umumnya dan karakteristik mereka setelah mendapat layanan bimbingan.
Adapun beberapa karakteristik anak bodoh, antara lain adalah dan setelah mendapat bimbingan:
1. Intelegensinya dibawah rata-rata, setelah mendapat bimbingan ada
peningkatan minimal termasuk rata-rata
2. Tidak menunjukan peningkatan prestasi, setelah mendapat layanan
bimbingan ada peningkatan prestasi.
3. Tidak aktif menjadi aktif.
4. Yang tadinya suka tidur didalam kelas, jadi tidak lagi dan jarang karena
aktif.
5. Lebih cenderung menyendiri, cuek, pemalu, kini penuh dengan semangat
pertemanan, ceria dan peka terhadap lingkungan.
6. Berusaha untuk mengerjakan soal dengan menggunakan kemampuan
sendiri tanpa mencontek pekerjaan teman, hanya bertanya tentang caranya saja.
7. Menunjukan peningkatan dalam menerima materi, stimulus, rangsangan
yang diberikan guru.
8. Cara berpikirnya mengalami kemajuan.

B. Deskripsi Awal Bimbingan
Adapun beberapa metode yang digunakan dalam mengumpulkan data, yaitu:
1. Observasi (pengamatan)
Pengamatan langsung kepada siswa yang bersangkutan dengan cara mengamati suatu keadaan atau kegiatannya.
Observasi ini melibatkan indra penglihatan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu.
b. Direncanakan secara sistematis.
c. Hasil yang dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan.
d. Perlu diperiksa ketelitiannya.
Dengan melakukan observasi kita akan memperoleh data, minimalnya kita tahu pengertian anak bodoh dan karakteristiknya. Setelah itu agar data yang kita kumpulkan lebih banyak dan akurat kita harus melakukan dokumentasi.

2. Dokumentasi
Dokumentasi yang kita lakukan meliputi pemeriksaan Lapor dan Buku Leger dan jika ada hasil tes, meliputi:
a. Tes intelegensi/ kecerdasan
b. Tes bakat
c. Tes prestasi belajar
Selain itu agar hasil yang kita peroleh maksimal kita lakukan wawancara.

3. Wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik untuk mengumpilkan informasi melalui komunikasi langsung dengan responden (orang yang diminta informasi) atau narasumber (anak yang akan mendapatkan bimbingan).
Dalam bimbingan ini wawancara dilakukan oleh:
- Guru dengan siswa yang mengalami masalah (anak bodoh).
- Guru dengan siswa (teman-temannya).
- Home Visit, kunjungan langsung kerumah orang tua siswa.

Dengan melakukan ketiga kegiatan diatas, maka kita telah melakukan pengumpulan data dan informasi, setelah itu kita melakukan Analisis data. Dalam kegiatan menganalisis data, kita diharapkan akan menemukan faktor-faktor yang menjadi penyebab anak itu dicap bodoh, faktor-faktor itu kita susun dan mencari pemecahannya.
Kemudian memberikan bimbingan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak yang ada hubungannya dengan faktor-faktor tersebut.
Layanan bimbingan ini bisa berupa, curhat antara siswa dengan guru, pemberian tes tambahan untuk membahas semua materi dari mata pelajaran yang dianggpnya sulit. Perhatian dan kesempatan-kesempatan yang sepadan, selaras sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dan yang terakhir Evaluasi atau tindak lanjut.

C. Pelaksanaan dan Refleksi Bimbingan
Tindakan.1 Tindakan.2 Tindakan.3
Melakukan wawancara untuk mengetahui masalah, dan memberikan solusinya, tapi belum ada perubahan. Lebih berusaha keras lagi untuk memberikan layanan bimbingan kepada siswa yang bersangkutan dan memberikan waktu yang relatif banyak. Dibantu dengan bimbingan orang tua dan partisifasi teman-temannya.






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masa usia SD (sekitar 6,0- 12,0 ) ini merupakan tahapan perkembangan penting dan bahkan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Karena itu, guru tidaklah mungkin mengabaikan kehadiran dan kepentingan mereka. Ia akan selalu dituntut untuk memahami betul karakteristik anak di SD.

Siswa yang mengalami masalah belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa.

Langkah-langkah untuk mengatasi masalah yang dihadapi anak yang mengalami
kelemahan atau ketidak mampuan dalam menerima materi, stimulus dan rangsangan (anak bodoh) antara lain:
1. Memberikan perhatian dan kesempatan-kesempatan yang sepadan, selaras sesuai dengan kebutuhannya.
2. Khususnya bagi orang tua, terimalah kelemahan yang dimiliki anak dengan kesabaran, tanggung jawab untuk membimbingnya.
3. Maafkan dan jangan dimaki, berilah motivasi atau dorongan sebagai pemacu semangat mereka.
4. Jangan sekali-kali memberi anak cap bodoh karena itu akan menjadi beban baginya. Seperti yang dilakukan oleh Ibundanya Albert Einstein, karena kita semua tahu bahwa saat Einstein masih duduk dibangku SD. Einstein dicap bodoh dan dikeluarkan dari sekolah karena selalu tidak naik kelas. Meskipun begitu, Ibunya selalu memberikan semangat untuk menjadi lebih baik. Dan akhirnya dengan keseriusan dan ketekunan Einstein menjadi seorang Ilmuan Besar dan menakjubkan.
5. Selalu berprasangka baik terhadap anak.
6. Dekatilah dan menjadi teman curhat setia bagi mereka
7. Pergunakanlah Metode Bimbingan yang sesuai dengan kebutuhannya.


3.2 Saran
Peran guru dalam mengatasi masalah belajar sebagaimana sebagaimana diuraikan dalam pembahasan diatas cukup menunjang keberhasilan pendidikan secara umum, terlebih lagi bagi siswa yang secara langsung menjadi subjek didik. Tetapi untuk merealisasikan hal itu memerlukan syarat-syarat yang tidak ringan dan menyangkut komponen pokok dalam pendidikan di sekolah. Keberhasilan penanganan berbagai masalah belajar di sekolah harus pula ditunjang oleh beberapa hal sebagai berikut :
1. Guru SD selain sebagai pengajar juga berperan sebagai pembimbing yang
harus memiliki keyakinan, ketrampilan dan motivasi yang tinggi untuk dapat merealisasikan upaya penanganan masalah belajar siswa yang terjadi di kelasnya.
2. Dukungan teman sejawat sangat diperlukan. Adanya kerjasama dan sikap saling memahami dan menghargai, akan mempermudah penyelesaian berbagai masalah yang ada dalam belajar siswa.
3. Terciptanya suasana saling membutuhkan, terutama siswa yang merasa membutuhkan guru; adanya usaha guru agar fasilitas yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh siswa, dengan dorongan dan pengarahan pihak-pihak yang ada di sekolah.
4. Kerjasama, saling membutuhkan dan saling menghargai, sikap terbuka dan komuniasi yang baik, semua itu sangat diperlukan untuk terealisasinya upaya guru SD dalam mengatasi masalah belajar siswa.












DAFTAR PUSTAKA

http://Gee-sugito.blogspot.com

http://p4p.extreemhost.com

http://one.indoskripsi.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar